27 Mei 2025 adalah waktu terakhir dimana saya membuat tulisan atau bisa dibilang cerbung yang saya rasa keluar dari zona nyaman saya. Berlatar menonton beberapa film action seperti series Reacher, 2 film Nobody dan tetralogi John Wick saya merasa punya ide brilian untuk menjadi detektif swasta yang kemudian saya tuangkan melalui tulisan saya berjudul Agnyana.
Tapi mari kita berkilas balik di semestar genap, di tahun 2025. Hal-hal apa saja yang terjadi di sana? Pengalaman baru? Orang-orang baru? Atau bahkan keluarga baru? Mari kita bahas satu per satu.
Juni, 2025
Yang saya ingat di bulan ini hanya, saya mengembara lagi di beberapa kota seperti Surabaya, Malang dan mungkin Mojokerto (?). Mengikuti beberapa kali diskusi dan wawancara untuk kerja dan kalau diingat momennya cukup berkesan. Sebab, pada akhirnya saya bertemu dengan anak perempuan pertama itu.
Juli, 2025
Di bulan ke 7 ini, enggak banyak perubahan yang terjadi selain rasanya kami (saya dan anak perempuan pertama itu) semakin dekat satu sama lain. Saya rasa memasuki paruh kedua di 2025 saya lebih gemar juga untuk mengobrol dengan rekan-rekan sejawat (kembali) sekadar membahas tentang politik, sepak bola, pembaruan hidup masing-masing dan kilas balik di masa sekolah.
Agustus, 2025
Lanjut bulan Agustus, yang saya ingat cuma Indonesia Ulang Tahun itu aja. Oh iya, saya juga berkelana ke Ibu Kota, reuni kecil dengan rekan seperjuangan ketika kuliah. Pengalaman manis, walaupun ada momen dimana saya mulai membenci ice skating. Semua nasi padang itu keluar begitu saja tanpa perlawanan. Bahkan mungkin malaikat Izrail agak bingung, orang ini belum waktunya tapi kok nyawanya sudah mau keluar bareng nasi padang yang tadi?
Namun, pengalaman kembali bermain dan berbincang dengan rekan seperjuangan semasa kuliah kembali membawa banyak memori seperti ketika kami berada di Malang, di balkon kos saya dengan lampu remang itu, bermain semua permainan mulut yang biasa kami mainkan, membicarakan semua hal dari mulai film, perkuliahan, game bahkan mungkin arah hidup. Di posisi saya yang sedang berjuang dan bertumbuh, saya cukup mendapat banyak energi positif di sana.
September, 2025
Di bulan ini sepertinya saya menjajaki babak baru dengan kembali ke rutinitas memasak seperti di masa masa akhir perkuliahan saya. Menjadi juru masak, ya meskipun kemampuan saya sepertinya di situ-situ saja.
Oktober, 2025
Engga banyak yang berubah selain di masa masa ini saya mulai mempertanyakan eksistensi dan kehidupan apa yang semestinya saya jalani kini dan nanti. Mungkin bulan September dan Oktober ini saya lebih sering menjadi pejalan kaki. Dan itulah titik balik bagi saya. Ternyata menjadi pejalan kaki lebih membuat diri saya bisa melupakan masalah hidup namun bisa pula mengamati masalah sekitar. Ada perasaan tenggelam dalam pikiran "apa ya yang dicari di dunia ini?" Jadi lebih sering merenung, bahwa secepat apapun tempo kehidupan kota kecil ini dan orang orang di dalamnya, kita perlu jeda, barangkali pada 2 bulan ini saya akhirnya paham dan memaknai bahwa jeda itu bisa membuat pikiran dan tubuh kita jauh lebih jernih. Di beberapa hal, semua yang terjadi cepat, bahkan saya juga sudah lupa bagaimana bisa saya melalui bulan itu, namun setelah tulisan ini dibuat dan diperbarui (26 April 2026) saya merasa dinamika kehidupan manusia modern memang secepat itu. Sebagai makhluk yang berintelektual tinggi dan membawa kebijaksanaan dalam DNA-nya, saya akhirnya punya pola tersendiri dalam memaknai hidup.
Bahwa, gak peduli sesibuk apapun kamu dan duniamu, ambillah jeda sebisa mungkin. Seperti puasa yang memberi jeda pada tubuh, barangkali terlihat lamban bisa memberi jeda pada jiwamu.
November, 2025
Satu frasa yang bisa menggambarkan sesuatu di bulan ini adalah "Babak Baru". Tantangan, doa, usaha pada bulan-bulan sebelumnya saya rasa semuanya melebur menjadi satu. Lalu, saya juga bertemu orang-orang baru, keluarga baru dan cerita cerita baru dari rekan sejawat saya. Dua bulan ini bahkan sampai November 2025, saya rasa selera musik saya juga dipenuhi oleh karya dari Perunggu. Dalam perlombaan, perunggu biasanya diasosiakan dengan juara ketiga, setelah Perak dan Emas. Namun, bagi saya rasanya band Perunggu adalah Emas, karena karyanya dapat membantu perenungan saya selama semester genap 2025.
Ternyata saya ada di fase "di kehidupan yang cuma sekali ini, apa ya yang dicari?" dan saya yakin kebanyakan orang pernah ada di fase ini. Kayak berhenti dari semua hiruk pikuk dunia, kita akan selalu bertanya eksistensi kita apa? Makna yang bisa kita berikan di bumi yang udah tua ini apa?
Desember, 2025
Sebagai penutup dari tahun 2025 yang penuh dengan perasaan naik turun dari awal tahun menuju ke pertengahan dan berakhir di semester genap 2025, yang saya bisa rasakan adalah mungkin pada saat itu, saya sedang hidup dalam doa doa yang telah saya langitkan bertahun-tahun silam. Jadi, mungkin kalau ditanya bagaimana 2025 versi saya? Ah, roller coaster sekali.
Sedihnya ada, karena bagi beberapa teman yang cukup dekat, mereka akan tau bagaimana saya di awal 2025. Bahkan perjuangan untuk pulih dan kembali tumbuh hingga mendekati semester genap 2025 pun mereka yang cukup dekat dengan saya akan tau itu.
Senangnya juga ada, karena seperti lirik lagu Raim Laode "sebab Tuhan t'lah berjanji, setelah sempit, ada kemudahan" jadi hal hal menyenangkan di 2025 pun banyak terjadi, gak cuma di periode semester genap, bahkan ketika saya mulai kembali bertumbuh, kembali menjadi juru masak, kembali menghadapi tantangan baru, bertemu orang baru dan banyak hal lainnya.
Perjuangan? Ah, kembali bertumbuh setelah jatuh terkubur itu hal yang sangat sulit. Perubahan yang drastis adalah hal yang gak pernah ada dalam kamus saya. Namun pada akhirnya, masa itu juga terlewati.
Tulisan ini saya dedikasikan untuk semua orang yang menjadi bagian dari tahun 2025 saya. Yang mengulurkan tangan, yang membuka pandangan dan yang berbagi telinga dan mau mendengarkan. Bukan sebagai bentuk untuk menggurui, namun sebagai bentuk pembelajaran pikiran dan hati. Sebab, perjalanan setiap insan tidak mudah, semuanya punya resiko masing-masing. Pilihannya adalah resiko seperti apa yang bisa kamu pertanggungjawabkan untuk itu? Terlepas dari bagaimana hubungan vertikal dan horizontal kalian, namun saya percaya bahwa hidup ini kita yang menentukan. Namun ada hal hal yang gak bisa kita sentuh sekeras apapun usaha kita. Rahasia semesta yang gak akan pernah kita ketahui kebenarannya. Sampai saat jiwamu belum menemui kebenaran itu, hiduplah. Demi apa-apa yang menjadi kekuatanmu. Secangkir kopi di pagi hari, demi musisi yang kau gemari, demi menonton film-film bersama mereka yang kau cintai, demi keluarga yang saling menyayangi atau mungkin hanya demi indomie goreng di jam 2 dini hari.
Sebab, hidup itu perlu punya banyak alasan bahkan lebih dari yang saya sebutkan, tapi mati hanya perlu 1 alasan, yaitu kehidupan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar